Jepara – Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara sukses menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Seminar Demokrasi di Auditorium Perpustakaan Lantai 4 UNISNU Jepara pada Rabu (01/07). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Lembaga Mahasiswa (LEMAWA) di lingkungan UNISNU Jepara yang turut antusias meramaikan jalannya acara.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia KPUM, Ade Idham Mauliddin, menyampaikan bahwa acara ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan edukasi mengenai cara pemilihan yang baik dan cerdas, sekaligus berharap agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar. Nada optimis juga disampaikan oleh Ketua Umum KPUM, M. Syafi'i. Ia menyoroti minimnya partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) sebelumnya dan berharap kegiatan ini mampu mendongkrak tingkat partisipasi ke depan melalui pembekalan ilmu tentang demokrasi serta manajemen Pemilwa yang bijak.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber berkompeten. Materi pertama disampaikan oleh Bapak Muhammadun dari KPU Jepara yang memaparkan dinamika pilihan politik "memilih atau tidak memilih". Beliau menjelaskan bahwa proses politik selalu diwarnai drama karena perebutan kekuasaan adalah hal yang lumrah, asalkan tetap bersandar pada hukum (rule of law). Beliau juga mengingatkan bahaya clientelism yang hanya mementingkan kelompok tertentu. Lebih lanjut, ia mengupas faktor psikologis penyebab mahasiswa golput, seperti sikap apatis, anomi (merasa aktivitas politik sia-sia), dan alienasi. Menurutnya, pemilih yang cerdas adalah mereka yang kritis dan memahami visi-misi kandidat lewat kajian atau riset terlebih dahulu.
Narasumber kedua, Bapak Sujiantoko, S.H.I., M.M., dari BAWASLU Jepara, membagikan pengalamannya semasa aktif di kampus. Ia mengibaratkan kampus sebagai miniatur negara yang memiliki lembaga legislatif dan eksekutif, di mana DPM bertugas mengawasi BEM. Beliau menilai suasana Pemilwa kampus saat ini terlalu sepi dan menyebut bahwa dinamika atau "drama" politik kampus sebenarnya penting untuk memicu ketertarikan mahasiswa. Menanggapi fenomena golput, ia menyatakan bahwa golput bukanlah solusi, melainkan bentuk rindu demokrasi yang tidak tersalurkan.
Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Merespons pertanyaan Ketua KPUM mengenai mahasiswa yang golput saat tidak ada jam kuliah, muncul gagasan opsi perpanjangan waktu pemilihan atau pemanfaatan sistem e-voting. Sementara itu, menanggapi pertanyaan dari Ristin (Wakil Gubernur FEB) tentang menurunnya minat memilih, ditekankan pentingnya menanamkan perspektif bahwa "satu suara sangat berharga". Tanggung jawab meningkatkan partisipasi ini bukan hanya di pundak KPUM, melainkan juga tugas bersama para pengurus, partai politik kampus, dan para kandidat untuk meyakinkan pemilih, salah satunya dengan mendekatkan TPS ke konstituen demi kemudahan verifikasi.
-----------------------------------------
Najwa Kamila & Nazwa Azzahro

Comments
Post a Comment