HMPS PGSD UNISNU Gelar Seminar Pendidikan dan Psikologi untuk Perkuat Kesadaran Kesehatan Mental Mahasiswa
Jepara — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PGSD FTIK UNISNU Jepara sukses menyelenggarakan Seminar Pendidikan dan Psikologi pada Sabtu (31/1/2026) di Auditorium Perpustakaan Lantai 4 UNISNU Jepara. Kegiatan ini diikuti oleh 200 mahasiswa aktif PGSD UNISNU dan berlangsung dari pagi hingga siang hari dengan suasana kondusif serta partisipasi yang aktif dari peserta.
Mengusung tema “Sinergi Dunia Pendidikan dan Psikologi: Memperkuat Akar Kesehatan Mental dalam Pendidikan,” seminar ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa banyak remaja, khususnya mahasiswa, masih mengesampingkan kesehatan mental di tengah tuntutan akademik dan sosial yang semakin kompleks. Melalui kegiatan ini, panitia berharap mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran emosional dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Acara diawali dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh jajaran pengurus HMPS PGSD serta pimpinan fakultas. Dalam sambutannya, Ketua Panitia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang membangun manusia yang sehat secara mental dan emosional.
Sesi inti menghadirkan narasumber Darmawan Wicaksono, M.Si., dari Layanan Konseling UNISNU Jepara. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara tuntutan akademik dan kesehatan mental. Mahasiswa diajak memahami emosi diri, mengenali tanda-tanda stres, serta membangun cara menghadapi tekanan yang lebih sehat dan konstruktif.
Selaras dengan materi yang disampaikan, peserta juga diajak merefleksikan kondisi diri dan pengalaman pribadi mereka. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan terkait manajemen stres, kejenuhan akademik (burnout), serta bagaimana menjaga kesehatan mental sebagai calon pendidik.
Salah satu peserta menyampaikan kesannya terhadap seminar ini, “Seminar ini membuka perspektif baru bagi saya sebagai calon pendidik, bahwa sebelum berfokus menangani peserta didik, kita perlu lebih dulu menyelesaikan ‘luka’ dalam diri kita sendiri. Kondisi emosi dan pengalaman pribadi guru sangat memengaruhi cara kita memandang dan memperlakukan peserta didik. Perspektif ini mendorong saya untuk menjadi pendidik yang lebih sadar diri, lebih sabar, dan lebih manusiawi dalam mendampingi peserta didik.”
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi singkat dan dokumentasi bersama. Secara keseluruhan, seminar berjalan lancar dan dinilai berhasil meningkatkan kesadaran mahasiswa PGSD terhadap pentingnya kesehatan mental dalam dunia pendidikan.

Comments
Post a Comment