![]() |
| pixabay.com |
Oleh: enyelaaa
Akhir-akhir ini aku selalu pulang lebih malam. Bukan karena keinginan, melainkan karena hidup memaksaku berjalan lebih cepat dari yang sanggup kuikuti. Pekerjaan yang menumpuk, target yang tak pernah selesai, dan rasa gagal yang terus mengikuti langkahku membuat hari-hari terasa semakin sempit. Aku pulang dengan kepala penuh, membawa lelah yang tak selalu bisa kuceritakan.
Setiap kali pintu rumah terbuka, pemandangannya selalu sama, lampu ruang tengah menyala, dan Ibu duduk di sana. Kadang ia melipat pakaian, kadang sambil mononton televisi. Acara yang ditonton sering kali tak benar-benar ia perhatikan, seolah layar itu hanya alasan agar waktu menunggu terasa lebih singkat.
“Belum tidur, Bu?” tanyaku suatu malam.
Ibu hanya menggeleng pelan. “Menunggu kamu.”
Aku tidak pernah bertanya mengapa ia harus menunggu. Selama ini, aku menganggapnya sebagai kebiasaan kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.
Hingga suatu malam, hujan turun tanpa jeda. Aku pulang dengan tubuh lelah dan kepala penuh oleh pikiran-pikiran yang saling bertabrakan—takut tidak cukup mampu, takut mengecewakan banyak orang, takut berjalan terlalu jauh tanpa benar-benar tahu arah. Sepatu kulepas seadanya, tas kubiarkan tergeletak. Ibu menyodorkan secangkir teh hangat. Uapnya tipis mengepul, aromanya samar, seperti usaha kecil untuk menenangkan.
Ia tidak berkata apa-apa. Aku duduk dan menatap lantai, merasa dunia tiba-tiba terlalu berat untuk dipahami. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin menyerah, pada pekerjaan, pada harapan, pada diriku sendiri.
Ibu lalu duduk di sampingku. Ia tidak menasihati, tidak pula bertanya berlebihan. Ia hanya ada. Keheningan di antara kami justru terasa lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun.
“Ada hari-hari yang berat, ya?” ucapnya lirih.
Aku mengangguk. Tak ada kata yang mampu keluar, tetapi air mataku jatuh lebih dulu, seolah tubuhku akhirnya mengakui apa yang selama ini kutahan.
Beberapa hari setelah itu, aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Dari kejauhan, kulihat ibu sudah di dapur. Tangannya gemetar saat menuang air. Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan kembali, seolah tubuhnya tidak sedang meminta jeda. Aku berdiri mematung, menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatianku.
“Sejak kapan ibu terlihat selelah itu?” batinku.
Siang harinya, aku pulang lebih awal. Rumah sunyi. Ibu tertidur di kursi ruang tengah, kepalanya sedikit miring. Di pangkuannya, pakaian belum selesai dilipat. Wajahnya tampak letih, jauh dari senyum ringan yang selalu ia pakai untuk menenangkan semua orang. Saat itu, kata “tidak apa-apa” yang sering ia ucapkan terdengar seperti kebohongan yang terlalu lama ia simpan untuk dirinya sendiri.
Saat itulah aku akhirnya paham bahwa ibu bukan tidak lelah. Ia hanya jarang memberi dirinya kesempatan untuk sekadar rehat, karena baginya setiap waktu yang dimiliki selalu berarti tanggung jawab untuk memastikan aku benar-benar baik-baik saja.
Ingatan-ingatan bermunculan. Semua keluh kesahku tentang hidup yang berat, tentang dunia yang terasa tidak adil. Aku lupa bahwa setiap langkah yang bisa kuambil hari ini berdiri di atas keteguhan seseorang yang lebih memilih bertahan tanpa banyak suara, tanpa tuntutan untuk dimengerti.
Malamnya, aku duduk di samping ibu. Ada jeda lama sebelum aku berani berbicara.
“Bu,” kataku pelan, hampir berbisik, “Ibu capek, ya?”
Ibu tersenyum tipis. “Sedikit.”
Jawaban itu terdengar ringan, tetapi matanya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Aku menarik napas dalam-dalam. Kata-kata itu akhirnya keluar, bukan sebagai tanya, melainkan sebagai kesadaran yang perlahan kupahami.
“Aku sering merasa gagal, Bu. Sering merasa tidak cukup. Tapi aku masih bisa bertahan sampai sekarang.” Aku berhenti sejenak. “Itu karena Ibu. Karena Ibu selalu mendukungku dalam diam, bahkan ketika Ibu sendiri juga merasa lelah.”
Ibu tidak langsung menjawab. Tangannya yang keriput bergerak pelan, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu berhenti. Ia tidak menyangkal, juga tidak membenarkan. Ia hanya diam, dan diamnya terasa seperti pengakuan paling jujur.
Di situlah aku mengerti.
Aku ada karena ibu bertahan. Bukan karena hidup selalu ramah, bukan karena jalan yang kutempuh mudah, melainkan karena ada seseorang yang memilih untuk tidak menyerah, bahkan ketika lelahnya sendiri tak pernah sempat ia ceritakan, agar aku bisa terus melangkah.
Malam itu, aku
memeluk ibu lebih lama dari biasanya. Tanpa alasan khusus, tanpa kata apa pun.
Hanya ingin memastikan bahwa kali ini, ia tidak perlu bertahan sendirian.

Comments
Post a Comment