Bulan ini,
ingatan tentang para pahlawan kembali menyala—
bukan lagi sejarah yang diam,
melainkan getar yang mengetuk kesadaran.
Di tanah inilah mereka menyerahkan segalanya.
Kau tegakkan bendera di tanah berdarah
dengan nyali yang tak mengenal kata menyerah.
Semangatmu, bara yang tak padam,
membakar habis kabut penjajahan
dan membuka langit yang dulu diselimuti gelap.
Namun Tuan Pahlawan,
lihatlah bumi yang kini kami pijak.
Merdeka terasa dingin,
sepi dari makna yang dulu kau titipkan.
Api yang kau wariskan
justru membakar sesama,
menghanguskan persaudaraan yang rapuh.
Keadilan hanyalah kata di undang-undang—
tersangkut dalam jaring korupsi
yang tak mengenal ujung.
Nyala integritas seolah hilang,
digantikan nafsu yang membungkam suara nurani.
Di mana janji persatuan yang kau ukir?
Ia luntur,
menjadi bisik perpecahan yang getir.
Kami merayakan namamu,
namun gagal menjaga takdirmu,
berjuang melawan kebusukan
yang tumbuh bukan dari penjajah,
melainkan dari tubuh kami sendiri.

Comments
Post a Comment