Oleh: Shiva Salma
Di serambi musala, aku duduk sembari menatap lalu lalang para santri yang terlihat sibuk menyambut datangnya hari santri esok hari. Tempat mencuci pakaian yang sebelumnya tidak begitu ramai, siang ini nampak dipenuhi oleh para santriwati yang mengantre untuk mencuci sarung hitam yang sebelumnya mungkin saja sudah dipakainya selama berhari-hari.
Ada yang sibuk lalaran Al-Qur'an, untuk kemudian bisa disetorkannya selepas Magrib nanti. Beberapa lagi ada yang memilih membantu mempersiapkan pawai untuk memeriahkan Hari Santri tahun ini. Sedangkan aku? Aku tidak masuk ke dalam satupun kelompok santri yang telah aku sebutkan barusan.
Hari ini, rasanya aku terlampau malas untuk sekadar beraktivitas. Entahlah, pikirku itu mungkin karena berita viral yang sempat kudengar dari orang sekitar. Seorang pengisi suara dalam salah satu program siaran televisi yang seenaknya menyebarkan informasi tanpa melakukan riset yang mendalam.
Kedisiplinan di dalam pesantren yang disebutnya sebagai bentuk penindasan, serta pengabdian yang dianggap sebagai perbudakan. Ah aku jadi ingin tahu seperti apa orangnya. Sekecil apa ukuran kacamatanya, hingga ia tidak bisa melihat indahnya kehidupan di balik penjara suci ini?
Pandai mengaji, pintar mengatur waktu, serta pandai mengelola emosi. Itu semua adalah didikan kiai yang kerap dipandang sebelah mata oleh mereka yang tak paham akan agama. Hal itu mengingatkanku pada saat pertama kali aku mondok dahulu. Diriku yang tidak begitu paham dengan peraturan yang ada di pesantren, membuatku kerap bertanya-tanya perihal mengapa para santri harus selalu tunduk saat di depan para ahli agama.
Namun sekarang, aku sudah mengetahui jawaban dari pertanyaanku sebelumnya. Tunduk dalam kamus kami para santri adalah sebagai bentuk adab untuk menghormati mereka yang lebih tua.
“Hei, ada apa? Kenapa hanya diam di sini?" tanya seseorang, menyentuh lembut bahuku. Nisalah orangnya, salah satu temanku yang selalu peka dengan perubahan sikap orang-orang terdekatnya.
"Tidak ikut menyiapkan pawai?" aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Anak-anak sudah menunggumu loh sedari tadi,"
"Iya Nisa, sebentar lagi aku menyusul," jawabku pelan. Dia turut menampilkan senyum, memperhatikan kembali wajah ayuku dengan begitu detail, seolah tengah mencari arti di balik murungnya wajahku siang itu.
"Lagi mikirin apa sih?" tanyanya, menoel pelan daguku.
"Tidak Nis, aku hanya bingung. Dunia ini kenapa dipenuhi dengan orang-orang yang senang memandang pesantren dengan sebelah mata?"
Nisa mengangguk, "Ah, soal berita yang lagi viral itu ternyata, iya aku juga mendengar beritanya dari ibuku waktu sambangan kemarin." Terdengar ia mengembuskan napasnya secara perlahan.
"Sama sepertimu, akupun bingung mengapa mereka hanya ingin viralnya saja, tanpa terlebih dahulu memikirkan kalau ia juga bisa dihujat habis-habisan hanya perkara informasi yang diedarkannya?"
“Seharusnya mereka melakukan riset terlebih dahulu,” kataku, suaraku meninggi tanpa sadar.
“Mereka tidak tahu bagaimana kehidupan di dalam pondok yang sebenarnya. Mereka tidak tahu bahwa di sini kami belajar sabar, belajar tunduk karena cinta, bukan karena takut.”
Nisa diam. Mungkin kaget mendengar aku tiba-tiba bicara dengan nada seperti itu.
Aku menarik napas panjang, menatap halaman pondok yang kini mulai sepi.
“Aku cuma tidak terima, Nis. Rasanya seperti difitnah,” lanjutku pelan. “Padahal di sini... aku belajar bahwa ketaatan bukan berarti terpenjara.”
Nisa tersenyum tipis. “Mereka boleh menilai sesuka mereka, tapi yang tahu kebenarannya kan kita.”
Kata-katanya sederhana, tapi menamparku.
Aku menatap para santri kecil yang sedang menjemur sarung. Wajah mereka penuh tawa, polos, dan tenang. Seolah dunia luar tak pernah mengusik mereka.
Dalam hati, aku tahu kami tidak perlu berteriak untuk membela pesantren. Cukup dengan terus berbuat baik, dunia pada akhirnya akan mengerti.
Tak lama kemudian, azan Zuhur berkumandang. Kami bergegas mengambil air wudu.
Di antara suara gemericik air dan panggilan suci itu, hatiku terasa lebih ringan.
Mungkin fitnah akan selalu datang, tapi kami santri akan selalu punya satu hal yang tak bisa mereka pahami, ketulusan untuk belajar, sekalipun dunia salah menilai.

Comments
Post a Comment